08
Apr
10

CDR Serpong, si harimau penangkap hujan … (Eps.1)

CDR (baca : si-di-ar).. begitulah saya biasa memanggilnya. Teman-teman lain juga biasa menyebutnya radar Serpong. Sebagian lagi-misalnya rekan yang sering berbagi permen dengan saya di neonet-malah suka menyebutnya dengan nama yang lebih garang : ‘harimau’.

Lalu apa sebenarnya mahluk bernama CDR alias ‘harimau’ itu ?

C-band Doppler Radar Serpong

CDR yang merupakan singkatan dari C-band Doppler Radar, adalah salah satu radar cuaca milik BPPT yang berlokasi di kawasan PUSPIPTEK Serpong.  CDR memiliki frekuensi pancar 5.32 GHz, yang termasuk dalam rentang frekuensi C-band menurut standar IEEE, yaitu antara 4-8 GHz. Sebagai informasi (mungkin ada yang belum tahu), selain CDR Serpong, BPPT juga memiliki satu radar cuaca (fixed) yang berlokasi di Padang. Radar cuaca Padang ini memiliki frekuensi pancar 9.7 GHz yang termasuk dalam rentang frekuensi X-band (8-12 GHz), oleh karena itu saya lebih suka menyebutnya : XDR Padang.

Berhubung setiap harinya lebih sering ‘bergaul’ dengan CDR, otomatis saya jauh lebih mengenal CDR luar-dalam dibandingkan XDR. Mulai dari sistem perangkat keras, perangkat lunak, mode observasi, pengolahan data, troubleshooting sampai hal-hal lain yang mungkin tidak tercantum dalam manual si radar sendiri, misalnya tingkah laku CDR yang doyan ‘tidur’ pada waktu-waktu tertentu dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam tulisan ini saya lebih banyak mengulas CDR saja.

OK, kembali ke masalah penggunaan frekuensi C-band dan X-band untuk radar cuaca tadi.

Radar cuaca pada prinsipnya tidak berbeda dengan radar-radar lain, misalnya radar pendeteksi pesawat di bandar udara. Yang berbeda adalah objek yang diamatinya. Radar memancarkan gelombang elektromagnetik untuk mengidentifikasikan jangkauan, ketinggian, arah dan kecepatan, baik dari objek yang diam maupun bergerak, berdasarkan sinyal yang dipantulkan objek. Radar cuaca sendiri adalah tipe radar yang digunakan untuk melokasikan presipitasi, menghitung pergerakannya, memperkirakan jenisnya (hujan, salju, hail dsb) dan meramalkan posisi serta intensitasnya.

Pemilihan frekuensi C-band atau X-band didasari oleh karakteristik objek yang diamati oleh radar itu sendiri. Panjang gelombang optimal yang digunakan untuk mengamati objek di atmosfer seperti tetes hujan, awan, salju, hail atau kabut, berada dalam kisaran 1-10 cm. Makin pendek gelombang (yang berarti makin tinggi frekuensi pancarnya), makin kecil ukuran objek yang dapat diamati dan makin mudah pula gelombang tersebut teratenuasi (diserap/dihamburkan) di atmosfer.

X-band Doppler Radar Padang

Radar cuaca yang memiliki frekuensi dalam rentang X-band/Ku-band umumnya sangat sensitif, tidak hanya untuk mendeteksi hujan, tetapi juga untuk mengamati partikel-partikel yang sangat kecil, misalnya awan, kabut atau salju. Namun karena gelombangnya lebih pendek, maka sinyalnya akan lebih mudah teratenuasi. Sehingga, biasanya radar dengan frekuensi tinggi ini hanya optimal untuk pengamatan jarak pendek saja. Kelebihan utama dari tipe radar X-band adalah diameter antenanya yang kecil (karena panjang gelombang yang digunakan pendek), sehingga biasanya radar-radar X-band lebih ‘portable’ alias mudah dipindah-pindahkan. Radar tipe ini biasa digunakan pada pesawat udara untuk mendeteksi awan atau turbulensi di atmosfer selama penerbangan. Salah satu contoh pemanfaatan radar X-band portable di BPPT adalah mobile radar yang dioperasikan oleh UPT Hujan Buatan.

X-band Doppler Mobile Radar

Untuk wilayah Indonesia yang beriklim tropis, khususnya JABODETABEK, hujan merupakan bentuk presipitasi yang paling dominan terjadi. Hail (hujan es) juga dapat terbentuk, walaupun jarang dan hanya terjadi pada kondisi-kondisi ekstrim. Karena ukuran partikel untuk tetes hujan dan hail lebih besar dibandingkan partikel awan atau kabut, maka radar C-band dengan panjang gelombang 4-8 cm adalah yang paling optimal untuk pengamatan. Dibandingkan XDR, CDR memiliki diameter antena yang jauh lebih besar, sehingga kurang portable dan lebih cocok untuk pengamatan pada lokasi tetap (fixed). CDR sendiri merupakan salah satu tipe radar yang mengaplikasikan pengamatan dengan memanfaatkan efek Doppler. Dengan menghitung pergeseran frekuensi sinyal yang dipantulkan objek terhadap sinyal awal yang dipancarkan, sang radar dapat menghitung kecepatan gerak si objek. Untuk pengamatan cuaca, efek Doppler sangat bermanfaat untuk mendeteksi kecepatan gerak hujan atau thunderstorm yang teramati pada radar.

Demikian ulasan singkat mengenai radar cuaca yang dimiliki BPPT. Tulisan selanjutnya akan sedikit mengupas tentang ‘jeroan’ dari si harimau itu sendiri, yaitu sistem perangkat keras dan lunak yang dimiliki CDR Serpong. Semoga bermanfaat.

Terima kasih.

-A3-

(to be continued …)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Info Hujan Terkini

Sijampang

Info Hujan dari Sijampang

RSS Berita Harimau

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.

Visitors

Blog Stats

  • 15,137 hits

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 704 other followers

%d bloggers like this: